Suatu hari Cakka dan Agni berangkat bersama-sama ke sekolah.
"Cakka, cepet dunkz.. lama bgtz sich ?" teriak Agni.
"Iy, bntar nieyh lgy sarapan" jawab Cakka.
Cakka pun keluar dari rumah dan berangkat bersama Agni. Dalam perjalanan Agni terus memandangi Cakka.
"Andai aja dya taw perasaanku, apakah dya jga menyukaiku?" tanyanya dalam hati.
Cakkapun menoleh kepada Agni dan berkata "Ada apa ? Ada yang aneh denganku ?"
"Ah.. tidak" jawab Agni dengan terkejut.
Sesampainya di sekolah, mereka berdua langsung menaruh tas. Beberapa menit kemudian belpun berbunyi. Semua siswa memasuki kelasnya masing-masing. Bu Ira pun masuk ke kelas 7-A dan mengajak seorang anak perempuan pindahan dari Salatiga.
"Selamat pagi anak-anak" sapa Bu Ira.
"Selamat pagi Bu" jawab murid dengan serentak.
"Hari ini kita kedatangan murid dari Salatiga, namanya Oik. Oik, silahkan perkenalkan dirimu"
"Selamat pagi, nama saya Oik. Mohon bantuannya ya teman-teman" kata Oik dengan ramah
"Baiklah Oik, silahkan duduk di sana. Mari kita lanjutkan pelajaran sebelumnya" kata Bu Ira sambil membuka buku pelajaran.
Bel istirahat berbunyi.
"Cak, ke kantin yukz ?" ajak Agni.
”Sebentar, kita kenalan dulu yukz sama anak baru itu” ucap Cakka.
”Okeh” jawab Agni tanpa curiga.
”Hay, kenalin namaku Cakka”
”Aku Agni”
”Aku Oik”
”Kamu maw ke kantin ? Bareng kita aja yukz ? Kamu kan belum tahu dimana kantin, jadi maw yaw ?” ajak Cakka.
”Cak, jangan maksa gitu kenapa ?” tanya Agni.
”Gax pa2 kok. Ok, aku maw ikut sama kalian” jawab Oik.
Lalu mereka bertiga ke kantin. Dalam perjalanan, Agni merasa ada yang aneh dengan Cakka hari ini. Cakka selalu memandangi Oik dan senyum-senyum gax jelas.
Sesampainya di kantin, mereka bertiga bertemu dengan Debo, Alvin, Ray dan Gabriel.
”Hey Cakka, Agni. Ayo sini” panggil Debo.
”Iy, ayo sini” lanjut Gabriel.
”Hey bro” teriak Agni.
”Siapa ini ? Kayaknya aku belum pernah lihat dech, murid baru yaw ?” tanya Ray.
”Iya, aku Oik. Salam kenal yaw” ucap Oik memperkenalkan diri.
“Namaku Alvin, ini Gabriel, ini Ray dan ini Debo” kata Alvin sambil menunjuk teman-temannya sesuai nama mereka.
”Kamu cantik bgt” ucap Gabriel.
”Makasi, kamu jgax ganteng“ balas Oik.
”Ehem, ada apa nieyh ? Kok tiba-tiba panas yaw ?? ujar Debo.
Cakka yang mendengar hal itu tampak kesal. Ia menjadi sedih saat Oik dan Gabriel saling curi pandang. Lalu Agni membuyarkan suasana.
”Udach dounkz, kapan mesen makanan nieyh ?” kata Agni dengan sedikit kesal.
”Iy, ayo kita pesan makanan” lanjut Cakka dengan ketus.
Bel masuk kelaspun berbunyi, semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Cakka, Agni dan Oik masuk ke kelas 7-A sedangkan Debo, Alvin, Ray dan Gabriel masuk ke kelas 7-B. Pelajaran telah usai Cakka dan Agni pulang bersama-sama.
”Sampai jumpa besok Oik” ucap Cakka dari bangkunya.
”Sampai jumpa juga Cakka, Agni” teriak Oik.
Cakka dan Agni keluar dari kelas. Dalam perjalanan pulang, Agni bertanya kepada Cakka.
”Cak, kamu kenapa sich ?? kok kelihatannya seneng bgtz ?” tanya Agni.
”Ah.. masa sich ? Begini, Oik cantik bgtz yaw ?” tanya Cakka dengan wajah memerah.
”Iy, lalu kenapa ?” jawab Agni dengan ketus.
”Jangan bilang siapa-siapa yaw ? Aku suka sama Oik” ucap Cakka.
”Hah ?” tanya Agni yang terkejut.
Seketika itu, Agni merasakan perasaan yang berkecamuk di dadanya. rasanya sakit sekali seperti ditusuk dengan jarum.
”Hey, kenapa ? Kok bengong begitu ?” tanya Cakka
”Ah, gax pa2 kok” jawab Agni dengan bohong.
”Agni, kamu maw gax nyomblangin aku sama Oik ?” tanya Cakka.
”Apakah harus aku ??” jawab Agni.
”Kamu kan sahabatku ? Tolong yaw.. Aku mohon” pinta Cakka dengan muka memelas.
”Baiklah” ucap Agni dengan nada sedikit membentak.
Keesokan harinya, Cakka yang menjemput Agni.
”Udach siap ?” tanya Cakka.
”Udach” jawab Agni dengan lemas. Matanya sembab habis menangis semalaman.
”Kamu sakit ?? Kok lemes gitu sich ? Semangat dunkz” tanya Cakka khawatir.
Agni tidak menjawab dan terus berjalan. Cakkapun bingung dengan sikap Agni.
Sesampainya di kelas, Agni terus melamun. Ia terlihat tidak bersemangat dan tidak seceria biasanya..
”Ag, ke lapangan yukz ?? Main basket bentar ??” ajak Cakka dengan semangat.
”Gax-ah, lagi mlez nich !! Lgyan kan msih pagy ? Lebih baek kamu PDKT aja sama Oik, ntar keburu diambil orang lain. Oik kan cantik jadi banyak yang suka” jawab Agni dengan ketus.
”Ag..” panggil Cakka.
Kemudian, Agni berlari menuju taman. Dia duduk termenung di bangku taman. Ia sangat sedih dan rasanya ingin menangis namun Ia masih bisa menahannya.
”Apa yang aku katakan pada Cakka ? Kenapa aku bersikap seperti tadi padanya ?? Dya kan hanya sahabatku. Kenapa aku marah padanya ? Dya kan suka sama Oik jadi aku harus membantunya, bukannya bersikap seperti ini. Aduch, bodoh sekali aku. Aku harus minta maaf sekarang” pikirnya dalam hati.
Agnipun menuju ke kelas untuk meminta maaf kepada Cakka. Namun sampai di kelas, Agni melihat pemandangan yang menyakitkan. Cakka sedang asyik mengobrol dengan Oik. Agni langsung duduk di bangkunya. Ia mendengar Cakka begitu akrab dengan Oik.
Bel masuk kelas berbunyi, semua murid duduk di bangkunya masing-masing. Agni tidak berani memandang wajah Cakka. Cakka yang duduk di sebelahnya menjadi bingung.
”Mungkin nanti dya akan bicara padaku” pikir Cakka.
Akhirnya pelajaran selesai, semua murid bersiap-siap untuk pulang.
”Selamat siang anak-anak”
”Selamat siang Bu” ucap anak-anak serempak.
”Cak, maaf yaw tadi pagy aku langsung pergi” kata Agni dengan gugup.
”Gax pa2 kok” jawab Cakka.
”Kalo begitu sekarang aku akan menyuruh Oik pergi ke taman, jadi kamu siap2 yaw buat nembak Oik sekarang” kata Agni.
”Tapi, aku kan belum siap ?” ucap Cakka.
”Ayolah, mumpung dya belum pulang. Aku yakin dya pasti jga menyukaimu secara kamu kan perfect bgtz, udach ganteng, pinter, keren lgy. Kan banyak cewe-cewe yang suka sama kamu Cak“ bujuk Agni.
”Eh..ehm, gimana yaw ? Boleh dech” jawab Cakka.
Setelah itu, Agni menghampiri Oik yang masih merapikan bukunya.
”Oik, boleh bicara sebentar gax ?” tanya Agni.
”Iy, ada apa ??” jawab Oik.
”Temanku ingin bicara berdua denganmu di taman sekarang, bisa gax ? tanya Agni.
”Boleh” jawab Oik.
”Oke, ditunggu yaw” sahut Agni.
Agni menuju ke arah Cakka dan menarik tangan Cakka keluar kelas.
”Nah, sekarang pergilah ke taman. Tunggu Oik di sana, sebentar lagi dya akan menyusul”
”Benarkah ?” tanya Cakka.
”Iy, aku akan menunggumu di depan pintu gerbang. Okeh ?? jawab Agni.
”Baik” jawab Cakka dengan semangat.
Cakkapun berlari menuju taman. Agni hanya menatapnya berlari seakan-akan dya tak kan pernah bisa menyentuh punggung Cakka. Agni segera berlari menuju pintu gerbang. Ia melamun di sana hingga beberapa menit dan akhirnya suara Cakka membuyarkan lamunannya.
”Hey, kok bengong gitu ?” tanya Cakka.
”Ah.. gax. Oy, gimana tadi ?? Agni balik bertanya.
Tiba-tiba Oik melewati pintu gerbang dan ia melihat Cakka dan Agni.
”Sampai jumpa besok yaw Cakka” ucap Oik.
”Iy, sampai jumpa” kata Cakka.
”Sampai jumpa besok Agni” kata Oik lagi.
”Iy, sampai jumpa jgax” kata Agni.
Oik pun pergi sambil tersenyum. Pada saat yang sama Cakka juga tersenyum. Agni bingung dengan sikap mereka. ”Mungkin mereka sudah jadian” pikir Agni.
”Agni, pulang yukz ?” ajak Cakka.
”Tunggu dulu, bagaimana tadi ?” tanya Agni.
”Sudah, ntar aku ceritain dalam perjalanan” jawab Cakka.
Mereka berdua berjalan dengan santai dan Cakka belum ada bicara. Ia hanya senyum-senyum dari tadi. Agni yang memperhatikan Cakka menjadi bingung dengan sikap Cakka. Karena penasaran, Agni bertanya kepada Cakka.
”Cak, gimana tadi ?? Kasih taw dunkz, aku kan penasaran” pinta Agni.
”Hehe..” Cakka tertawa kecil.
”Dari ekspresi Cakka, pasti dya diterima” kata Agni dalam hati.
”Tadi aku udach nyatain perasaanku pada Oik dan dya bilang....”
”Selamat yaw” potong Agni lalu berlari menjauhi Cakka.
”Eh, tunggu... Aku kan belum selesai bicara” teriak Cakka.
Namun, Agni sudah terlalu jauh. Agni terus berlari dan berlari. Ia tidak sadar kalau dya sudah sampai di rumah. Ia masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Seketika itu, air matanya sudah tax terbendung lagi dan bercucuran keluar. Ia begitu sedih.
Cakka yang masih berdiri di sana menjadi bingung melihat tingkah laku sahabatnya itu. Lalu ia pulang dan masuk ke kamarnya. Ia sedang berpikir apa yang terjadi dengan Agni. Sekeras apapun dya berpikir, ia tetap tidak menemukan jawabannya.
Keesokan harinya, Agni bingung apakah dya maw sekolah atau tidak. Tapi akhirnya dya memilih untuk sekolah. Namun, hari ini ia tidak berangkat bersama-sama dengan Cakka.
Sesampainya di kelas, Agni melihat Cakka sedang mengobrol dengan Oik. Melihat hal itu, Agni langsung keluar dari kelas. Cakka dan Oik menjadi kaget saat Agni berlari keluar. Oik mulai berbicara.
”Lebih baek kamu jelasin sama dya sekarang, kasihan kan dya. Liat tuh matanya sampai sembab gitu” kata Oik.
”Tapi, apa kamu yakin yang kamu bilang kemaren itu bener ?” tanya Cakka.
”Iy, itu kan terlihat jelas di wajahnya” jawab Oik.
”Masa sich ?” tanya Cakka untuk meyakinkan.
”Iya. Saat aku berkenalan dengan kamu, wajahnya terlihat kesal. Lalu saat dya menyuruh aku untuk datang ke taman, ia tampak sedih walaupun ia tersenyum” jelas Oik.
”Tapi gimana caranya ?” tanya Cakka.
”Begini,....” jelas Oik yang telah memiliki ide untuk masalah Cakka.
”Baiklah” jawab Cakka.
Seharian, Agni hanya diam saja. Cakka dan Oik juga tidak berkata apa-apa.
Akhirnya tiba waktu untuk menjalankan rencana Oik.
Oik mendatangi Agni.
”Ag, kamu ada waktu gax ?” tanya Agni.
”Ada, emank kenapa ??” jawabnya dengan ketus.
”Hari ini ada yang menantang kamu bermain basket” kata Oik.
”Hah ? Siapa yang berani menantang aku bermain basket ??” tanya Agni yang tax percaya.
”Ada dech, pokoknya ntar sepulang sekolah dya menantangmu main basket di lapangan. Ditunggu yaw” ucap Oik.
”Oke dech, aku akan menerimanya” jawab Agni bersemangat.
Lanjut ke bagian 2 :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar